perih dan panas. pecahan kaca itu menggores pergelangan tanganku, tak butuh waktu lama sampai akhirnya darah mengalir dari luka itu. aku mengernyit,menahan sakit yang semakin lama semakin terasa. tak cukup dalam goresan itu. tak cukup untuk membuatku mati kehabisan darah. tak apa, itu memang kusengaja. aku memang belum mau mati. tidak sekarang. tidak dengan kondisi dan dengan cara yang menyedihkan seperti ini. maksudku, aku belum seputus asa itu untuk mengakhiri hidupku sendiri.
katakanlah, aku hanya butuh rasa perih ini di tubuhku. perih yang cukup untuk sekedar membuat hampa di hatiku menghilang, walau untuk sementara. perih yang membantuku untuk tetap merasa hidup. untuk tetap membuatku sadar, bahwa aku masih manusia. masih bisa merasakan sakit. masih bisa mengeluarkan darah jika terluka.
sial, aku mulai menangis. lucu sebenarnya jika kupikirkan lagi, biasanya aku bukan orang yang gampang meneteskan airmata. seberapa sakitnya aku terjatuh. seberapa seringnya aku dijatuhkan. aku hampir tak pernah menangis. tapi kini, kalau kau bisa melihatnya, ada aliran air mengalir dari sudut mataku membasahi pipi. dan ini hanya karena sebuah goresan di pergelangan tanganku.
darah yang mengalir tadi mulai mengering, perihnya pun berangsur hilang. ah, cuma setengah jam rupanya. kurang, aku ingin lebih. kutekan lagi luka yang baru kubuat itu. rasa perihnya kembali menghujam otakku dan darah perlahan tapi pasti, mulai mengalir kembali. ya, ini lebih baik. jauh lebih baik.
apa kau bilang? tidak, tidak... aku tidak gila. aku hanya, hmm, katakanlah, kecanduan dengan perih ini. lapar akan sensasi ini. tentu kau tidak akan mengerti, kau bukan aku. aku juga tak akan memaksamu untuk mengerti. malah sejujurnya, aku tak peduli dengan apa yang kau pikirkan tentangku. aku suka perih ini. itu saja.
aku sudah melakukan hal ini sejak dulu. sejak hatiku mulai merasa hampa. kapan itu? entahlah, aku pun sudah lupa. yang kuingat hanyalah dengan melukai diriku sendiri dan menikmati perih ini, mampu membuatku bertahan hidup. membuatku merasa lebih hidup.
tiba-tiba aku merasa hampa lagi. seakan-akan ada sebuah lubang hitam yang muncul dari dasar hatiku dan menelan semua ke dalam kegelapan dan kehampaannya. ah, rupanya sensasi nyerinya mulai berkurang lagi. semakin lama,sensasi nyeri ini semakin cepat menghilang. aku benci kalau ini terjadi. kurasa aku butuh membuat luka yang lebih dalam lagi. lebih menyakitkan dari ini. pecahan kaca sialan ini tak cukup untuk melakukan tugasnya. brengsek. aku butuh sesuatu yang lebih tajam.
tangan kananku kalap membongkar laci meja di samping peraduanku. dan aku melihatnya. terbungkus kertas merah, semerah darahku. tanganku gemetar. aku tak sabar lagi. segera kubuka kertas yang membungkusnya. dan lihatlah, dia seakan tersenyum menantiku. aku membalas senyumannya itu lalu mulai menekankan mata silet itu ke pergelangan tangan kiriku, tepat di bawah luka yang kubuat sebelumnya. kutekan dalam-dalam lalu kugores perlahan. sangat perlahan. aku ingin menikmati setiap detik perih yang tercipta itu. well, lakukan tugasmu dengan baik, siletku tercinta.
aku menghela nafas,merintih pelan. darah mulai mengalir dari luka itu. cepat dan banyak. sementara sensasi perih itu semakin intens, aku berbaring lalu memejamkan mata. entah sudah berapa lama ini terjadi. yang kutau, darahku terus saja mengalir tanpa henti. aku mulai merasa lelah dan pusing. tapi ini memang baru perih yang kunantikan. perih yang tak cepat usai. yang lebih baik lagi, hampa di hatiku perlahan mulai lenyap. tak pernah kusadari seiring dengan perih ini, detak jantung dan hembusan nafasku pun mulai melemah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar