Untuk kesekian kalinya kupandang papan nama di gedung depanku. SMA XAVERIUS 3 PALEMBANG. Ada getar aneh merambat di dadaku saat ini. Rindu, sedih, sebal, senang dan kagum campur aduk jadi satu. Almamater tercinta atau malah almamater terkutuk? Aku memandang sekelilingku. Well, rasanya nggak ada yang berubah dari sekolah ini, masih tetap sempit dan terasa penuh di mataku. Tapi… tunggu dulu. Coba lihat catnya! Dulu gedung-gedungnya dicat warna putih, kini krem mendominasinya. Not bad, walau masih tampak suram hahaha
Perlahan aku mengitari lapangan basket, lalu duduk di bangku tepi lapangan itu. Di sini tempat nongkrong favoritku kelas satu dulu. Selain letaknya yang pas di depan kelasku, dari sini kau juga bisa melihat semua orang lalu lalang dari dan menuju kantin. Lumayanlah buat sekedar scanning cewek-cewek, kali-kali aja ada yang cocok hehe. Pandanganku tiba-tiba terhenti pada sosok perempuan yang berdiri jauh di depanku. Rasanya aku kenal sosok itu. Nggak yakin juga, sih, terutama kalo kau ngeliatnya dari jarak tiga meter kayak gini.
Baru aja aku hendak mendekatinya ketika dia setengah berlari menghampiriku. Dan di sinilah dia berdiri, di depanku. Dia merapikan rambut panjangnya yang berantakan dipermainkan angin, lalu dengan pedenya dia mengulurkan tangan. Aku mengernyitkan dahi, mengorek ingatanku, kali-kali aja aku kenal dia. Hasilnya? Nihil. Rasanya aku emang nggak kenal dia. Tapi kenapa dia senyam senyum nggak jelas gitu? Mungkinkah dia naksir aku? Hoo, geer! Tapi kalo emang dia mau, aku nggak bakal keberatan, kok. Secara dia emang cantik banget hehe.
“Revan, kan? Revan Wendrata, lulus taon 2004.” katanya, yakin. Tangannya masih menanti tanganku. Aku menaikkan kedua alisku, tambah bingung koq dia tau nama dan kapan aku lulus. Tanpa sadar kusambut uluran tangannya. Gila, lembut banget! Kayak megang porselen Cina.
“Sapa, ya?”
Dia menelengkan kepalanya. “Lupa?” Gadis itu memamerkan senyum manisnya sekali lagi.
Sapa dia? Think, Revan. Think! Tet tot. I still can’t remember her…
“Ini aku! Celine,” ujarnya setelah membiarkanku terdiam cukup lama.
Celine? Celine… Celine… Celine yang mana, ya? Aku menatapnya dari kepala ke ujung kaki. Mataku hampir meloncat keluar ketika ingatanku terlempar jauh ke jaman-jaman SMA dulu. Astaga! Celine yang itu? Masa, sih?! Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. “Celine yang kutu buku dan pemalu itu? Yang dulu pake kacamata setebal pantat botol, kan? Yang rambutnya dikepang dua??” cecarku tanpa sadar.
Celine tersenyum getir, wajahnya merah. “Iya, Celine yang itu…” jawabnya pelan.
Ups, Revan, kamu bego banget, sih! How could you do this to her! “Maaf…” kataku sungguh-sungguh, baru ngeh mungkin aku bikin dia tersinggung. Dan, kayaknya sih emang bener gitu…
Dia menggelengkan kepala. “Nggak pa-pa, kok. Emang dulu aku gitu, kan?” sahutnya maklum.
Aku menggoyangkan badanku, kikuk. Nggak tau harus ngomong apa lagi. Mau nggak mau mataku terus memperhatikannya, saat ini dia udah duduk di bangku. Kacamatanya entah kemana sekarang, digantikan lensa kontak berwarna hijau jamrud. Rambut kepangnya dulu –yang membuatnya dijuluki ‘Gadis desa tersesat’- kini terurai indah, dipotong shaggy-layer dan dicat coklat pirang. “Kamu bener-bener berubah,” kataku, terpesona. “Tambah cantik…” Sengaja kupelankan range suaraku. Desir aneh yang dulu pernah hinggap di hatiku kini kembali lagi.
“Apanya yang tambah cantik?” tanyanya tiba-tiba sambil menatapku bingung.
Aku menggeleng cepat. “Itu… Anu… Sekolah ini…” gumamku nggak jelas sambil asal tunjuk. “Keliatan cantik,” sambungku cepat. Shitt! Mudah-mudahan dia nggak denger yang barusan. Dia ber-ooh ria sejenak sebelum dengan cueknya menarikku menyusuri koridor kelas.
Kami berhenti di depan kelas XI-A2 –yang dulunya kelas 3IPS5, kelas kami saat itu. Aku menekan-nekan gagang pintu. Terkunci. Kupandang Celine sambil mengendikkan bahu. “Nggak bisa masuk. Kita ke tempet lain aja yuk!” ajakku.
Celine menggeleng lalu tersenyum jahil, sesaat dia celingukan kanan-kiri. Setelah yakin nggak ada orang selain kami di sini, dia mencopot beberapa kaca jendela kelas. “Ayo!” serunya ketika jendelanya kini muat untuk badan kami. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya. Nggak ada lagi cewek yang hanya menunduk tiap kali diajak ngomong. Nggak ada lagi cewek yang cuma bisa menahan tangsi ketika seseorang mengejeknya. Celine yang pemalu itu kini berubah drastis. Dia terlihat lebih supel. Lebih pede. Lebih… Kuat.
“Huaa… Kangen!” jeritnya sambil menatap sekeliling kelas.
Aku mengangguk, menyetujui kata-katanya barusan. Celine berlari menuju meja paling depan –tepat di depan meja guru- lalu mengelus-elus meja itu. Aku ingat, meja yang selalu dihindari oleh anak-anak lain itu memang meja favoritnya. Lebih cepet ngerti kalo duduk di sini, jawabnya ketika suatu waktu aku bertanya. Tentu saja jawaban itu langsung disambut cemooh ‘Sok-pinter-deh-lo-dasar-norak’ dari anak-anak sekelas, termasuk –tentu saja– aku.
Aku berjalan ke sudut kanan ruang kelas, tujuanku: meja paling belakang. Mejaku dulu. Segera saja aku duduk di bangku, tanganku mengusap pelan meja itu. Rasanya masih sama kayak lima tahun yang lalu, aku bahkan bisa melihat tulisan tanganku ketika mencatat penggalan catatan Tata Negara ku di meja itu. Apa mejanya nggak pernah diganti? Ah, waktu itu koq rasanya bahagia banget. Nggak perlu mikirin kejer skripsi. Nggak perlu mikirin cari kerja. Taunya cuma maen, jajan, ngecengin adek kelas, dan belajar. Ralat. Kata yang terakhir itu kayaknya lebih tepat kalo diganti dengan ‘Nyontek’. Hmm, ternyata emang jauh lebih cocok dan… sesuai kenyataan hehehe.
Well, aku juga masih ingat. Betapa seringnya aku dan teman-teman yang lain diem-diem cerita di belakang pas jam pelajaran. Topiknya, apalagi kalo bukan tentang siapa pacaran atau putus sama siapa atau kemaren malem yang menang bola tim kesebelasan mana. Kadang, kami juga seri mencuri makan di kelas –yang langsung dapet hadiah jeweran atau teguran dari guru yang ngajar. Yah, hal-hal konyol seperti itulah (tapi ngangenin. Bener!).
Sering juga kami mengharapkan lulus SMA secepat mungkin. Alasannya, tak lain dan tak bukan karena: BOSAN! Bosan belajar. Bosan bangun pagi dan pulang sore. Bosan ujian dan dapet pe-er yang bagi kami nggak jelas. Bosan juga ngeliatin temen-temen yang sama selama tiga taon berturut-turut. B-O-S-A-N. Cuma itu, kok. Bener. Sumpah!
Oke, oke… Sebenarnya masih ada yang lain. Salah satunya biar nggak ketemu sama guru-guru yang bawelnya minta ampun. Terutama… Mami. Yup, bener banget tebakanmu! Mami Killer a.k.a. Ibu Kristin S. yang itu. Guru matematika yang ketenarannya sudah menjadi legenda Xavega. Duh, kemana semuanya itu pas kuliah atau kerja saat ini??? Sekarang, aku bersedia ‘membunuh’ cuma untuk mengulang masa-masa itu lagi. Ah, seandainya waktu bisa diputar kembali...
“Mikirin apa?” Suara Celine membawaku kembali ke masa kini.
“Jaman SMA dulu sama Mami. Kamu?”
Celine mengangguk. “Sama,” jawabnya singkat. Dia tertawa sebelum akhirnya menyambung, “Yang paling dibenci itu ternyata paling disayang, ya? Bener juga kata Mami waktu itu…”
Aku tersenyum mengiyakan.
Dia diam, matanya menatap nanar meja guru. “Ibu Fanny udah nggak ada, loh…” kata-kata Celine mengambang.
Mendengar nama Ibu Fanny a.k.a. Ibu Sri Partini, hatiku terasa perih. Guru ekonomiku itu emang salah satu guru favoritku. Ya, walo cara ngajarnya hampir mendekati ekstremnya Mami. “Aku tau,” jawabku singkat. Beliau meninggal gara-gara kecelakaan mobil kira-kira setaon setelah kami lulus. God bless her soul…
Celine tiba-tiba terjangkit virus diamku. Wajahnya nampak muram, mungkin dia juga sedang mengingat-ingat lagi sosok Ibu Fanny dulu. Mengingat senyumnya. Mengingat cara ngajarnya. Mengingat nasehat dan selentingannya dulu.
“Yang lain… Apa kabarnya, ya?” kataku nyaris berbisik.
“Entahlah. Baik-baik saja, kuharap.” Celine berjalan menuju papan tulis, entah mau apa dia di sana. Mengenang rasa galau ketika Mami menyuruhnya maju buat ngerjain soal, kurasa. Entahlah.
Aku mengangguk, setuju. Tiba-tiba ada yang mengganjal di hatiku. Perasaan aneh yang lama kupendam dan kulupakan kini muncul lagi tanpa permisi. Perasaan yang harusnya sejak lama udah kukatakan padanya, hanya saja aku terlalu takut waktu itu. Aku terlalu pengecut. “Celine…” panggilku.
Dia menoleh, rambutnya mengalun mengikuti geraknya, bibirnya melontarkan kata tanya. Aku menelan ludahku dengan susah payah, ada onak duri di kerongkonganku saat ini. Sekarang atau nggak sama sekali. “Aku suka kamu…”
Celine tercengang. Aku mendekatinya. “Aku…” Lidahku kelu. “Aku suka kamu dari kelas dua SMA, Lin.”
“Suka?”
Kuanggukkan kepalaku.
Celine menarik nafas, dalam. Sesaat kemudian dia tersenyum lalu menggeleng pelan. “Lupain aja! Itu udah lewat, Van…”
“Nggak bisa, Lin!” kataku setengah berteriak. Celine tampak kaget, mungkin nggak menyangka reaksiku akan begitu.
Dia terhenyak sesaat. “Kamu bisa bilang gitu gara-gara liat aku sekarang, kan?!” tanya Celine –yang lebih mirip pernyataan sebenarnya.
“Nggak, Lin!” tegasku. “Ini nggak ada hubungannya dengan kamu yang sekarang. Aku suka kamu, dan itu udah dari dulu. Dari jaman kita SMA!”
Celine memandangku. “Dari dulu?”
“Kamu nggak percaya?”
Dia tersenyum mengejek. “Terus kenapa kamu malah ikut-ikutan mereka ngucilin aku, Van? Apa kamu tau berat banget buat aku ke sekolah tiap paginya? Apa kamu pernah tau gimana sakitnya dikucilin sama yang lain cuma gara-gara aku kutu buku dan kampungan?! Dan sekarang… Setelah liat aku yang SEKARANG, kamu dengan enaknya bilang ‘aku suka kamu’?” ujar Celine, tajam. Matanya berkaca-kaca. Aku menunduk, malu. Benar, apa yang dikatakannya itu emang benar. Kemana aku dulu ketika dia butuh dukunganku?
“Aku tau, dulu aku jahat banget sama kamu. Tapi asal kamu tau, aku bener-bener tersiksa saat itu. Ngeliat kamu –cewek yang aku suka– diejek dan dikucilin tapi aku nggak bisa ngapa-ngapain. kamu nggak tau rasanya, Lin.” Aku menghela nafas.
“Aku tau, Van. Percayalah, aku tau rasanya. Aku yang ngalamin itu, inget kan?!” jawab Celine, cepat dan sinis.
Aku terdiam, nggak tau harus ngomong apa lagi. yang terucap hanyalah, “Maafin aku, Lin… Aku takut mereka ngucilin aku juga. Dan aku nggak mau itu terjadi…”
Airmata sudah membasahi pipi Celine saat ini. Airmata yang udah lama banget nggak pernah kulihat sejak kita lulus dari sini. “Kalo kamu mau tau, Van. Aku… aku juga pernah suka sama kamu…” bibir Celine gemetar ketika mengucapkan itu. “Tapi itu dulu… Dulu sekali…” Dia membiarkan kata-katanya mengambang sejenak.
“Aku sama sekali nggak pernah nyalahin kamu karena sikap kamu waktu itu. Aku ngerti, Van. Ngerti banget kalo seorang Revan Wendrata, sang Bintang Sekolah, sama sekali nggak pantes ngebelain Celine –gadis desa tersesat,” bisik Celine.
“Nggak, Lin! Itu…”
Celine meletakkan telunjuknya ke bibirku. “Tolong, jangan ngomong apa-apa lagi, Van. Rasa sukaku ke kamu udah abis, sama kayak masa SMA yang nggak pernah bisa kita ulang lagi. selesai. Tutup buku. Dan, aku harap kamu juga bisa ngelupain aku…” Dia membelai pipiku, tangannya terasa hangat.
“Sekarang semua udah telat. Minggu depan aku bakal nikah, Van…” katanya pelan, nyaris nggak bersuara.
Hening yang lama.
Celine melangkahkan kakinya menuju jendela, dengan cekatan dia memanjat keluar kelas. “Jangan pernah menyesali masa lalu, Van. Nggak akan pernah ada masa kini dan masa depan tanpa masa lalu…” kata-kata Celine menggema di kelas-kelas kosong seiring dengan langkah kakinya yang terdengar menjauh.
Dan aku…
Aku masih terpaku di sini. Berpusar dalam sesalku yang tak kunjung selesai. Andai saja aku lebih berani waktu itu. Andai saja aku lebih tegas saat itu. Andai saja… Andai saja, Celine!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar